Dolar AS Tembus Rp17.421, Rupiah Tertekan akibat Penguatan Pasar Global

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah kembali menguat pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Berdasarkan data pasar valuta asing internasional, 1 dolar AS mencapai Rp17.421,45 pada pukul 00.05 UTC. Kenaikan tersebut memperlihatkan tekanan besar terhadap rupiah di tengah penguatan mata uang Amerika Serikat di pasar global.

Data kurs itu muncul dalam hasil pencarian mesin pencari dan mengacu pada layanan keuangan internasional Morningstar. Angka tersebut juga sejalan dengan pergerakan kurs di sejumlah platform perdagangan mata uang dan perbankan nasional.

Platform transfer uang internasional Wise menampilkan kurs USD/IDR pada kisaran Rp17.421 per dolar AS. Sementara itu, sejumlah bank nasional memperlihatkan rentang nilai tukar yang sedikit berbeda karena menyesuaikan kebutuhan transaksi jual dan beli valuta asing.

Bank Mandiri, misalnya, mencatat kurs jual dolar AS di kisaran Rp17.395 hingga Rp17.475. BCA juga memperbarui nilai tukar harian melalui layanan kalkulator kurs di situs resminya. Adapun Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR.

Penguatan Dolar Dorong Tekanan Rupiah

Penguatan dolar AS terjadi setelah pasar global kembali merespons kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan kondisi ekonomi dunia. Investor global masih menempatkan dolar sebagai aset aman sehingga permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat.

Baca Juga :  Bantuan Beras 10 Kg Disalurkan Lagi, Pemerintah Genjot Stabilitas Harga Jelang Musim Kemarau

Kondisi itu ikut memengaruhi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika dolar menguat, nilai tukar rupiah biasanya melemah karena kebutuhan impor dan pembayaran luar negeri meningkat.

Pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve. Jika bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, arus modal asing berpotensi keluar dari negara berkembang dan kembali masuk ke aset berbasis dolar AS.

Perbankan dan Platform Digital Perbarui Kurs Harian

Sejumlah lembaga keuangan langsung memperbarui kurs transaksi mereka mengikuti pergerakan pasar. Platform Investing.com Indonesia menampilkan kurs USD/IDR di kisaran Rp17.395,5. TradingView juga menunjukkan tren penguatan dolar AS terhadap rupiah melalui grafik perdagangan real time.

Masyarakat yang melakukan transaksi internasional, pembelian barang impor, hingga pembayaran pendidikan luar negeri ikut merasakan dampak kenaikan dolar tersebut. Nilai tukar yang tinggi membuat biaya transaksi berbasis dolar meningkat.

Perusahaan importir juga menghadapi tekanan tambahan karena harus menyediakan dana lebih besar untuk membeli barang dari luar negeri. Di sisi lain, eksportir justru memperoleh keuntungan karena penerimaan dolar mereka meningkat saat dikonversi ke rupiah.

Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia terus menjalankan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Otoritas moneter memanfaatkan intervensi pasar dan instrumen keuangan guna mengurangi tekanan berlebihan terhadap mata uang domestik.

Baca Juga :  Prabowo Alihkan Anggaran dari Kantor Baru ke Proyek Cipta Kerja

Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dengan sejumlah negara mitra dagang. Langkah tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional.

Pengamat pasar keuangan menilai rupiah masih menghadapi tantangan dalam jangka pendek. Namun, stabilitas ekonomi domestik dan cadangan devisa yang memadai dinilai mampu membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

Masyarakat Diminta Cermati Pergerakan Kurs

Kenaikan dolar AS membuat masyarakat perlu lebih cermat memantau pergerakan nilai tukar. Fluktuasi kurs dapat memengaruhi harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga cicilan dalam mata uang asing.

Pengamat ekonomi juga mengingatkan pelaku usaha agar melakukan lindung nilai atau hedging untuk mengurangi risiko gejolak kurs. Langkah tersebut penting terutama bagi perusahaan yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS.

Hingga perdagangan awal pekan ini, rupiah masih bergerak di bawah tekanan seiring dominasi dolar AS di pasar global. Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan respons Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai tukar domestik.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya
DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:00 WIB

CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:00 WIB

DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Berita Terbaru