JAKARTA – JPMorgan Chase memperingatkan gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah pasar tenaga kerja global secara drastis. Laporan terbaru bank tersebut menyebut AI berpotensi menggerus banyak pekerjaan, terutama di level entry-level sektor kerah putih.
AI Dorong Produktivitas, Tapi Tekan Lapangan Kerja
JPMorgan menilai AI memang meningkatkan produktivitas bisnis. Namun, perusahaan juga melihat risiko besar terhadap pekerja pemula di bidang administrasi, manajerial junior, hingga pekerjaan berbasis pengetahuan.
“Kecerdasan buatan akan mengubah ekonomi dan pasar tenaga kerja,” tulis JPMorgan dalam laporannya yang dirilis awal pekan ini.
Bank itu menegaskan perusahaan mulai mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada posisi awal karena AI mampu mengambil alih banyak tugas dasar seperti pengolahan data, penyusunan laporan, hingga layanan pelanggan.
CEO Anthropic: Separuh Pekerjaan Entry-Level Terancam
CEO Anthropic, Dario Amodei, ikut memperkuat kekhawatiran tersebut. Ia menyebut hingga 50% pekerjaan white-collar level awal bisa hilang jika industri tidak mengendalikan laju adopsi AI.
Ia juga memperkirakan potensi hilangnya 10 juta hingga 25 juta pekerjaan bersih jika perusahaan menerapkan otomatisasi tanpa strategi transisi tenaga kerja. Amodei menilai kondisi itu dapat menekan ekonomi jika pemerintah dan industri tidak menyiapkan mitigasi.
AI Ubah Struktur Pekerjaan, Bukan Sekadar Hilangkan
JPMorgan menilai AI tidak langsung menggantikan seluruh pekerjaan. Perusahaan melihat AI lebih banyak mengubah tugas dibanding menghapus pekerjaan secara total.
Contohnya, perusahaan logistik C.H. Robinson memakai AI untuk membuat penawaran harga dalam 30 detik, jauh lebih cepat dibanding 15 menit oleh pekerja manusia. Perusahaan itu kemudian memangkas sekitar 10% karyawan setiap tahun sejak 2022.
Namun JPMorgan menegaskan pekerjaan berbasis pengetahuan tetap membutuhkan intuisi, konteks sosial, dan pengambilan keputusan kompleks yang belum bisa AI tiru secara konsisten.
Performa AI Masih Belum Stabil
JPMorgan mencatat model AI generatif terbaru memang terus berkembang. Model seperti Claude Opus 4.6 mampu menyelesaikan tugas kompleks setara 12 jam kerja manusia.
Namun tingkat keberhasilan AI menurun ketika tugas semakin rumit. Untuk tugas ringan, AI mencatat akurasi sekitar 80%. Angka itu turun menjadi 50% untuk pekerjaan yang setara 12 jam kerja manusia.
Kondisi ini membuat perusahaan masih ragu mengganti tenaga kerja manusia sepenuhnya dengan AI.
Infrastruktur Jadi Hambatan Besar
JPMorgan juga menyoroti keterbatasan infrastruktur. AI membutuhkan chip dalam jumlah besar, pusat data, serta pasokan listrik stabil.
Bank itu memperkirakan penggantian jutaan pekerja dengan AI memerlukan puluhan juta GPU. Selain itu, pembangunan pusat data raksasa membutuhkan biaya sangat besar dan konsumsi listrik setara kota besar.
Keterbatasan pasokan chip global juga memperlambat ekspansi AI karena produsen seperti TSMC belum mampu memenuhi lonjakan permintaan secara cepat.
Regulasi dan Sosial Hambat Otomatisasi Penuh
JPMorgan mencatat faktor regulasi dan sosial juga menahan laju otomatisasi. Lembaga seperti FDA membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk menyetujui teknologi AI di sektor kesehatan.
Di sektor keuangan, aturan ketat membatasi penggunaan AI dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain, masyarakat dan politisi juga mulai menyuarakan kekhawatiran soal ketimpangan ekonomi akibat AI.
Tetap Jadi Pendorong Ekonomi Jangka Panjang
Meski risiko pemangkasan pekerjaan meningkat, JPMorgan tetap melihat AI sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Teknologi ini dinilai dapat menciptakan profesi baru dan membuka akses layanan yang sebelumnya mahal, termasuk di bidang hukum dan bisnis kecil.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









