JAKARTA – PT Timah Tbk (TINS) mencatat penurunan produksi bijih dan logam timah sepanjang 2025. Meski begitu, kenaikan harga timah global berhasil menopang pendapatan dan laba perusahaan.
Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menjelaskan produksi bijih timah mencapai 18.635 ton Sn pada 2025. Angka ini turun 4 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 19.437 ton Sn.
“Penambangan ilegal masih marak, terutama di wilayah pesisir dengan ponton isap produksi. Selain itu, penolakan masyarakat terhadap pembukaan tambang baru ikut menekan produksi,” ujar Restu dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Produksi Logam dan Penjualan Ikut Menyusut
Penurunan produksi bijih berdampak langsung pada produksi logam timah. Sepanjang 2025, TINS memproduksi 17.815 metrik ton logam timah. Angka ini turun 6 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 18.915 metrik ton.
Penjualan logam timah juga mengalami kontraksi. Perusahaan menjual 16.634 metrik ton pada 2025 atau turun 5 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 17.507 metrik ton.
Namun, TINS tetap mengandalkan pasar ekspor sebagai penopang utama. Sekitar 95 persen penjualan logam timah mengalir ke pasar luar negeri.
Singapura menjadi tujuan ekspor terbesar dengan porsi 23 persen. Disusul Korea Selatan 21 persen, Jepang 17 persen, Belanda 7 persen, Italia 3 persen, dan China 3 persen.
Harga Timah Naik, Pendapatan Terdongkrak
Di tengah penurunan volume produksi dan penjualan, harga timah global justru meningkat. Rata-rata harga jual timah TINS naik 13 persen menjadi US$35.240 per metrik ton, dari sebelumnya US$31.181 per metrik ton.
Kenaikan harga ini mendorong pendapatan perusahaan. TINS membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun pada 2025, naik 6,41 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp10,86 triliun.
Perusahaan juga mencatat laba bersih Rp1,31 triliun. Realisasi ini melampaui target yang ditetapkan manajemen.
Kontribusi Ekspor ke Pasar Global
TINS memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor timah nasional. Penjualan ekspor perusahaan mencapai sekitar 24 persen dari total ekspor timah Indonesia yang sebesar 53.050 metrik ton.
Di tingkat global, kontribusi TINS mencapai sekitar 3 persen dari total ekspor timah dunia yang mencapai 371.369 metrik ton.
Strategi 2026: Genjot Produksi dan Hilirisasi
Memasuki 2026, TINS menyiapkan strategi untuk memulihkan kinerja produksi. Perusahaan akan fokus meningkatkan kapasitas produksi secara agresif dan memperkuat hilirisasi.
Manajemen juga akan mengoptimalkan cadangan, memperluas diversifikasi produk, serta mempercepat transformasi digital dan implementasi prinsip keberlanjutan (ESG).
Selain itu, perusahaan berencana meningkatkan efisiensi operasional dan memaksimalkan kinerja anak usaha.
Prospek Harga Timah Masih Kuat
Manajemen memperkirakan harga timah pada 2026 akan bergerak di kisaran US$33.500 hingga US$48.750 per ton.
Permintaan timah diprediksi meningkat seiring pertumbuhan industri elektronik, semikonduktor, dan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI).
“Momentum harga global dan penertiban tambang ilegal akan memperbaiki keseimbangan pasokan timah dunia,” kata Restu.
Dengan strategi tersebut, TINS optimistis dapat memperkuat posisi di industri timah global sekaligus meningkatkan nilai tambah bisnis ke depan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









