JAMBI – sekam padi menjadi biochar di Desa Pudak
Sekam padi yang selama ini kerap menumpuk setelah proses penggilingan kini mendapat perhatian dari warga Desa Pudak, Muaro Jambi. Mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi (Unja) mengajak Kelompok Tani Usaha Sepakat mengolah limbah tersebut menjadi biochar atau arang hayati.
Inisiatif itu tidak hanya menawarkan cara baru mengurangi limbah pertanian. Lebih dari itu, mahasiswa mengajak warga mengenal teknologi sederhana yang dapat menghasilkan bahan untuk campuran media tanam dan mendukung pengelolaan lahan gambut.
Pada 9 Juli 2026, mahasiswa bersama warga menjalankan proses pengolahan sekam menggunakan tong pembakaran yang telah mereka modifikasi. Mereka mengatur panas secara bertahap agar sekam berubah menjadi arang tanpa membakarnya hingga menjadi abu.
Mahasiswa Unja Melihat Potensi di Balik Sekam Padi
Sekam padi sering kali kehilangan nilai guna setelah proses penggilingan selesai. Sebagian masyarakat memilih membuang atau menumpuknya karena belum mengetahui cara mengolah material tersebut.
Namun, tim PPK Ormawa BEM Universitas Jambi melihat peluang berbeda. Mereka mengajak warga memanfaatkan sekam sebagai bahan baku biochar.
Dengan cara tersebut, limbah pertanian dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan. Selain mengurangi tumpukan sekam, masyarakat juga memperoleh alternatif bahan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Ketua PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026, Ahmad Al Fauzan, mendorong masyarakat melihat sekam sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna.
“Daripada sekam padi yang tidak digunakan hanya dibuang atau dibiarkan menumpuk, lebih baik sekam padinya kita manfaatkan menjadi arang hayati. Nantinya biochar ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam media tanam,” ujar Ahmad Al Fauzan, Ketua PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026.
Warga Pudak Ikut Mengolah Sekam
Tim mahasiswa tidak menjalankan kegiatan tersebut seorang diri. Mereka mengajak warga Desa Pudak dan anggota Kelompok Tani Usaha Sepakat mengikuti setiap tahapan pengolahan.
Warga menyiapkan bahan, mengenal alat, kemudian mengikuti proses pembakaran. Mahasiswa juga menjelaskan cara menjaga kondisi pembakaran agar sekam menghasilkan arang dengan tingkat kematangan yang lebih merata.
Kolaborasi ini penting karena masyarakat dapat langsung mempraktikkan teknologi yang mahasiswa kenalkan. Dengan demikian, warga memiliki bekal untuk mengulangi proses tersebut secara mandiri.
Selain itu, kegiatan bersama kelompok tani membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan pemanfaatan sekam sesuai kebutuhan pertanian setempat.
Tong Sederhana Mengubah Sekam Menjadi Arang
Tim menggunakan tong pembakaran yang telah mereka modifikasi untuk mengolah sekam. Mereka memasukkan sekam ke dalam tong, lalu mengatur proses pembakaran secara bertahap.
Selama proses berlangsung, mahasiswa dan warga terus memperhatikan kondisi panas. Mereka menjaga agar api tidak membakar seluruh sekam hingga berubah menjadi abu.
Ketika sekam mulai berubah menjadi arang, mereka mengaduknya secara perlahan. Pengadukan membantu panas menjangkau bagian sekam yang belum terbakar sehingga proses pembentukan arang berjalan lebih merata.
Setelah pembakaran mencapai tahap akhir, tim mendinginkan biochar. Mereka kemudian menyiapkan arang hayati tersebut untuk pemanfaatan sebagai salah satu bahan campuran media tanam.
Biochar Buka Peluang untuk Pengelolaan Lahan Gambut
Pemanfaatan biochar menjadi semakin relevan karena Desa Pudak memiliki karakteristik lahan gambut. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mengembangkan pertanian.
Tanah gambut memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral. Salah satunya, tanah gambut cenderung memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga petani perlu menerapkan pengelolaan tanah secara tepat.
Dalam konteks tersebut, biochar dapat menjadi salah satu alternatif pembenah tanah. Material ini berpotensi membantu memperbaiki sejumlah sifat media tanam, termasuk kemampuan mempertahankan air dan menyediakan ruang bagi unsur hara.
Meski demikian, masyarakat perlu menyesuaikan penggunaan biochar dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Biochar tidak menyelesaikan seluruh persoalan tanah, tetapi dapat menjadi salah satu pilihan dalam pengelolaan media tanam yang lebih berkelanjutan.
Ahmad Al Fauzan mengatakan tim ingin mendorong masyarakat agar melihat sekam padi dari sudut pandang yang berbeda.
“Biochar ini nantinya bisa dikembangkan untuk dicampurkan dengan media tanam, termasuk dalam pengelolaan lahan gambut. Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa sekam padi yang sebelumnya dianggap limbah ternyata masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan,” jelas Fauzan.
SIBERDAYA Lanjutkan Pengolahan Biochar
Program mahasiswa tidak berhenti setelah warga menyelesaikan proses pembuatan biochar. Tim juga membentuk Sistem Berbasis Biochar Daya Guna Masyarakat atau SIBERDAYA untuk menjaga keberlanjutan kegiatan.
SIBERDAYA akan melanjutkan pengolahan sekam padi menjadi biochar di Desa Pudak. Kehadiran tim tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk terus mempraktikkan pengetahuan yang mereka peroleh selama kegiatan bersama mahasiswa.
Dengan demikian, kegiatan tidak hanya menghasilkan biochar dalam satu kesempatan. Masyarakat juga memperoleh peluang untuk mengembangkan proses produksi secara berkelanjutan.
Bagi Kelompok Tani Usaha Sepakat, pengalaman tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan limbah pertanian. Sementara itu, mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan inovasi bersama masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal.
Dari Limbah Pertanian Menuju Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan di Desa Pudak menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Masyarakat dapat memulai perubahan dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Sekam padi yang sebelumnya kurang mendapat perhatian kini memiliki peluang menghasilkan manfaat baru. Melalui biochar, warga dapat mengurangi limbah sekaligus mengembangkan alternatif bahan untuk media tanam.
Lebih jauh, pembentukan SIBERDAYA memberi fondasi bagi keberlanjutan program. Pengetahuan yang mahasiswa bagikan tidak berhenti sebagai materi kegiatan, tetapi dapat terus masyarakat praktikkan dan kembangkan.
FAQ
Apa itu biochar?
Biochar merupakan arang hayati yang berasal dari bahan organik, termasuk sekam padi. Masyarakat dapat menggunakan biochar sebagai salah satu bahan pembenah tanah atau campuran media tanam.
Mengapa mahasiswa Unja mengolah sekam padi?
Mahasiswa ingin mendorong masyarakat memanfaatkan sekam padi sebagai limbah pertanian. Pengolahan tersebut juga membuka peluang pemanfaatan sekam untuk mendukung kegiatan pertanian secara lebih berkelanjutan.
Bagaimana warga membuat biochar?
Mahasiswa dan warga menggunakan tong pembakaran yang telah mereka modifikasi. Mereka mengatur proses pembakaran secara bertahap agar sekam berubah menjadi arang tanpa menghasilkan abu seluruhnya.
Apa manfaat biochar untuk media tanam?
Biochar berpotensi membantu memperbaiki sejumlah sifat media tanam. Material tersebut juga dapat membantu mempertahankan air dan menyediakan ruang bagi unsur hara.
Apakah biochar dapat mengatasi semua masalah tanah gambut?
Tidak. Biochar hanya menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan media tanam. Masyarakat tetap perlu menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman.
Apa fungsi SIBERDAYA?
SIBERDAYA atau Sistem Berbasis Biochar Daya Guna Masyarakat bertugas melanjutkan kegiatan pengolahan sekam padi menjadi biochar di Desa Pudak. Tim tersebut juga membantu menjaga keberlanjutan inovasi yang mahasiswa kembangkan bersama warga.(Tim)









