Gebrakan Baru BGN: Efisiensi Anggaran MBG Digenjot

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bergerak cepat. Nanik S. Deyang, yang kini memimpin lembaga tersebut, langsung merancang sejumlah kebijakan baru yang menitikberatkan pada efisiensi anggaran tanpa mengganggu target utama program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejak resmi menjabat, Nanik mengonsolidasikan internal BGN untuk menata ulang arah kebijakan, terutama setelah pergantian pucuk pimpinan dari Dadan Hindayana. Ia menegaskan bahwa efisiensi bukan berarti memangkas layanan, melainkan memperbaiki tata kelola agar lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, BGN juga menghadapi tantangan besar karena anggaran program MBG mengalami penyesuaian dari Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun. Meski demikian, Nanik memastikan kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama.

Refocusing Penerima Manfaat Jadi Langkah Awal

Langkah pertama yang diambil BGN adalah melakukan refocusing atau penajaman kembali sasaran penerima manfaat program MBG. Nanik menegaskan bahwa pihaknya tetap menjaga cakupan program, meski harus menyesuaikan strategi distribusi.

Ia menyampaikan bahwa efisiensi akan dilakukan di berbagai sektor tanpa mengurangi penerima yang benar-benar membutuhkan bantuan gizi.

“Kami berharap masih bisa menurunkan lagi. Namun tidak mengurangi sasaran. Kami akan terus melakukan efisiensi anggaran di berbagai bidang. Dalam rangka efisiensi anggaran, maka hal yang kami lakukan adalah pertama, refocusing penerima manfaat,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Jakarta.

Moratorium Dapur Baru dan Perbaikan SPPG

Selanjutnya, BGN mengambil langkah moratorium atau penundaan pendaftaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Kebijakan ini muncul sebagai bagian dari evaluasi terhadap efektivitas dapur yang sudah berjalan.

Baca Juga :  Babak Baru Skandal MBG, Kejagung Tahan Tiga Eks Bos BGN

Nanik menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pembenahan menyeluruh terhadap dapur yang sudah beroperasi. Jika ditemukan ketidaksesuaian standar, BGN tidak segan mengambil tindakan tegas.

“Artinya, bila dapur itu tidak sesuai, kami akan melakukan suspend,” tegasnya.

Selain itu, BGN juga memperkuat pelatihan sumber daya manusia agar kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga dan sesuai standar gizi nasional.

Fokus Baru: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas

Berbeda dari target awal, BGN kini tidak lagi mengejar 82 juta penerima program MBG. Pemerintah melalui BGN justru mengalihkan fokus pada peningkatan kualitas layanan.

Nanik menyebut perubahan arah ini sudah disampaikan langsung kepada Presiden. Menurutnya, strategi baru ini lebih realistis dan berkelanjutan untuk tahun 2026.

“Kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini, ‘mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas.’ Kami akan perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta,” tutur Nanik.

Skema Baru di Wilayah 3T dan Alternatif Pendanaan

Untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), BGN mulai menyesuaikan pola pelaksanaan program. Alih-alih membangun fasilitas baru, BGN akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada seperti kantin sekolah.

Baca Juga : 

“Kita bisa menggunakan dapur-dapur misalnya kantin sekolah. Karena 3T ini cuma ada yang isinya 200 orang, 81 orang, 47 orang di wilayah-wilayah itu. Jadi tidak mungkin kita membangun dapur-dapur baru,” jelasnya.

Selain itu, BGN membuka opsi pendanaan alternatif untuk mengurangi beban APBN. Skema ini mencakup kerja sama CSR dari BUMN, sektor swasta, hingga hibah dari negara lain.

“Dulu kan formasinya digunakan, dibangun dengan pakai seluruhnya anggaran negara. Yang sekarang itu kita coba ada alternatif-alternatif lain. Misalnya ada CSR BUMN, ada hibah dari negara lain,” kata Nanik.

FAQ

1. Apa fokus utama kebijakan baru BGN?

Fokus utama BGN adalah efisiensi anggaran tanpa mengurangi sasaran penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

2. Apakah target 82 juta penerima masih berlaku?

Tidak. BGN saat ini tidak lagi mengejar target 82 juta penerima dan lebih memprioritaskan kualitas layanan.

3. Apa itu moratorium SPPG?

Moratorium SPPG berarti BGN menunda pendaftaran dapur baru sambil mengevaluasi fasilitas yang sudah ada.

4. Bagaimana program MBG di wilayah 3T dijalankan?

BGN memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia seperti kantin sekolah, bukan membangun dapur baru.

5. Apakah ada sumber dana selain APBN?

Ya. BGN membuka peluang pendanaan dari CSR BUMN, swasta, hingga hibah internasional.

Berita Terkait

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional
SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya
DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:00 WIB

CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:00 WIB

DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto

Berita Terbaru