JAKARTA – Industri telekomunikasi Indonesia mencatat babak baru setelah PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) resmi berdiri dengan nama MoraRepublic. Perusahaan ini hadir sebagai hasil penggabungan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) dan PT Eka Mas Republik. Entitas baru ini langsung menegaskan ambisinya untuk memperkuat infrastruktur digital nasional, khususnya pada layanan fiber to the home (FTTH) dan jaringan tulang punggung serat optik.
Penggabungan Dua Kekuatan Telekomunikasi
MoraRepublic lahir dari konsolidasi dua pemain besar di sektor jaringan telekomunikasi. Moratelindo selama ini dikenal sebagai penyedia akses jaringan (NAP) dan layanan internet (ISP) dengan pengalaman panjang sejak tahun 2000. Sementara itu, Eka Mas Republik melalui MyRepublic Indonesia fokus pada layanan internet rumah berbasis FTTH dengan basis pelanggan ritel yang besar.
Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), induk usaha dari MoraRepublic, mendorong proses penggabungan ini untuk memperkuat posisi grup Sinar Mas di sektor infrastruktur digital. Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya, menegaskan perusahaan ingin membangun fondasi digital yang lebih kuat dan kompetitif di Indonesia.
“Kami ingin MoraRepublic menjadi motor utama penguatan infrastruktur digital nasional,” kata Krisnan.
Perluasan Jaringan dan Layanan FTTH
MoraRepublic langsung menetapkan fokus utama pada perluasan jaringan fiber optik dan peningkatan kualitas layanan internet. Perusahaan menargetkan ekspansi jaringan hingga menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia, termasuk kawasan non-perkotaan yang masih minim akses internet berkualitas.
Komisaris Utama Independen MoraRepublic, Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa perusahaan akan mempercepat pembangunan jaringan dengan tata kelola yang lebih disiplin. Ia juga menekankan pentingnya akuntabilitas dalam setiap langkah ekspansi.
“Kami menyatukan dua kekuatan besar untuk menjawab lonjakan kebutuhan konektivitas masyarakat Indonesia,” ujar Arsjad.
Kapasitas Jaringan Skala Nasional
Sebelum merger, Moratelindo mengoperasikan jaringan serat optik lebih dari 57.000 kilometer. Perusahaan ini juga mengelola enam pusat data dengan kapasitas 3,3 megawatt serta melayani ratusan ribu pelanggan ritel dan jutaan homepass di seluruh Indonesia.
Sementara itu, MyRepublic Indonesia mencatat lebih dari 1,5 juta pelanggan ritel dengan layanan internet berkecepatan hingga 1 Gbps. Perusahaan ini juga mengoperasikan jaringan fiber optik sepanjang lebih dari 58.000 kilometer dengan jangkauan homepass mencapai lebih dari 8 juta titik.
Kombinasi dua infrastruktur besar ini membuat MoraRepublic langsung masuk dalam jajaran pemain utama layanan internet berbasis fiber di Indonesia.
Strategi Pertumbuhan dan Target Industri
MoraRepublic menargetkan pertumbuhan agresif di sektor broadband rumah dan layanan korporasi. Perusahaan juga berfokus memperkuat layanan data center dan backbone nasional untuk mendukung kebutuhan transformasi digital yang terus meningkat.
Manajemen menilai permintaan internet berkecepatan tinggi akan terus naik seiring pertumbuhan ekonomi digital, layanan cloud, dan kebutuhan streaming. Oleh karena itu, MoraRepublic mempercepat integrasi jaringan dan layanan agar mampu bersaing di pasar yang semakin padat.
Dampak ke Industri Telekomunikasi
Penggabungan ini mendorong konsolidasi lebih lanjut di industri telekomunikasi Indonesia. Pelaku pasar melihat langkah ini sebagai strategi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing terhadap pemain global.
Dengan skala infrastruktur yang besar dan dukungan grup usaha kuat, MoraRepublic berpotensi menjadi salah satu penggerak utama transformasi digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









