JAKARTA – Jepang menghadapi tekanan besar di sektor otomotif akibat krisis pasokan aluminium global. Konflik di Iran memutus jalur pengiriman utama dari Timur Tengah dan langsung mengganggu rantai pasok industri.
Produsen mobil seperti Toyota Motor Corp dan Denso Corp mulai merasakan dampaknya. Industri otomotif Jepang selama ini bergantung hingga 70% pada impor aluminium dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga aluminium. Harga paduan logam ringan—yang banyak digunakan untuk komponen mesin hingga roda—melonjak sekitar 13% sejak konflik memanas pada akhir Februari.
CEO Kato Light Metal Industry, Daiki Kato, menyebut situasi ini mulai mengganggu operasional industri. Ia menilai perusahaan akan segera menghadapi kesulitan dalam memproduksi suku cadang mobil jika pasokan tidak segera pulih.
“Kami harus lebih selektif dalam pengeluaran dan mulai menghemat energi,” ujarnya.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan Jepang kini berupaya mencari sumber pasokan alternatif. Namun, langkah ini tidak mudah karena kebutuhan aluminium untuk industri otomotif sangat besar dan rantai pasok global masih terganggu.
Gangguan distribusi juga memperparah situasi. Konflik di Iran ikut menekan jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman energi dan bahan baku industri.
Jika kondisi ini terus berlanjut, produksi otomotif Jepang berpotensi menurun dalam waktu dekat. Dampaknya bisa meluas ke pasar global, mengingat Jepang merupakan salah satu produsen kendaraan terbesar di dunia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









