Warga Pudak Kini Punya “Alarm” Alami, Air Naik dan Surut Bisa Dipantau dari Alat Sederhana

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 8 September 2026 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAMBI – Kondisi air Desa Pudak

 

Warga Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, kini memiliki cara lebih sederhana untuk membaca perubahan kondisi air di lingkungan mereka. Mahasiswa PPK Ormawa BEM Universitas Jambi (UNJA) 2026 bersama masyarakat memasang piezometer dan staff gauge di RT 13 dan RT 16.

Empat alat tersebut membantu warga memantau dua kondisi sekaligus, yakni muka air tanah pada lahan gambut dan ketinggian air di kanal. Informasi itu penting karena perubahan muka air dapat memberikan tanda awal terhadap dua risiko lingkungan yang berbeda, yaitu kebakaran lahan ketika air terlalu rendah dan banjir ketika air mengalami kenaikan signifikan.

Menariknya, sistem pemantauan ini tidak mengandalkan perangkat rumit. Warga cukup membaca indikator warna hijau, kuning, dan merah pada alat untuk mengenali kondisi air. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan lebih cepat berdasarkan kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Piezometer Membantu Warga Membaca Kondisi Air Tanah

Masyarakat sering kali sulit mengetahui kondisi air yang berada di bawah permukaan tanah. Padahal, perubahan muka air tanah sangat penting bagi wilayah gambut.

Karena itu, mahasiswa PPK Ormawa BEM UNJA 2026 memasang piezometer sebagai alat untuk memantau muka air tanah. Alat tersebut menggunakan indikator warna agar warga dapat memahami perubahan kondisi tanpa melakukan pengukuran yang rumit.

Zona hijau menunjukkan kondisi muka air tanah yang relatif aman. Selanjutnya, zona kuning mengingatkan warga untuk mulai meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan kondisi lahan.

Sementara itu, zona merah menunjukkan muka air tanah yang sangat rendah. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih karena lahan gambut yang mengering dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Dengan sistem warna tersebut, warga dapat mengenali kondisi muka air tanah hanya dengan melihat posisi air pada indikator.

Staff Gauge Pantau Ketinggian Air Kanal

Berbeda dari piezometer, staff gauge membantu warga melihat ketinggian air di permukaan, khususnya pada kanal.

Mahasiswa memasang staff gauge di RT 13 dan RT 16 dengan sistem indikator warna yang sama. Zona hijau menunjukkan kondisi air yang relatif normal. Ketika air memasuki zona kuning, warga perlu meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan langkah antisipasi.

Kemudian, ketika permukaan air mencapai zona merah, warga perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena ketinggian air sudah menunjukkan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko banjir.

Sistem tersebut membuat warga dapat membaca perubahan air secara cepat. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu menunggu kondisi lingkungan memburuk untuk mulai mengambil tindakan.

Baca Juga :  Bantuan Beras CPP Mulai Disalurkan di Muaro Jambi, Pesan Wabup Junaidi Jadi Sorotan

RT 16 Jadi Lokasi Awal Pemasangan

Mahasiswa PPK Ormawa BEM UNJA 2026 lebih dahulu menjalankan rangkaian kegiatan di RT 16. Mereka menggelar sosialisasi kepada masyarakat pada 4 Agustus 2026.

Setelah sosialisasi, mahasiswa bersama warga memasang piezometer dan staff gauge pada 11 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun sistem pemantauan kondisi air yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Selanjutnya, mahasiswa memperluas sistem tersebut ke RT 13. Mereka menggelar sosialisasi pada 28 Agustus 2026, kemudian melaksanakan pemasangan kedua alat pada 31 Agustus 2026.

Dengan demikian, RT 13 dan RT 16 kini memiliki sistem pemantauan yang serupa. Warga di kedua wilayah dapat mengamati perubahan muka air tanah dan ketinggian air kanal secara langsung.

Ketua RT Dorong Warga Aktif Membaca Kondisi Air

Ketua RT 13, Mukhlisin, menyambut baik pemasangan piezometer dan staff gauge di wilayahnya. Menurutnya, alat tersebut membantu masyarakat mengenali kondisi air dan menentukan langkah antisipasi lebih awal.

“Di wilayah ini memang perlu ada pemantauan kondisi air karena masyarakat menghadapi risiko banjir dan juga kondisi lahan yang dapat menjadi rawan ketika air terlalu rendah. Dengan adanya alat ini, warga lebih mudah mengetahui kondisi air dan bisa melakukan antisipasi lebih awal,” ujar Mukhlisin.

Ketua RT 16, Abdul, juga melihat manfaat serupa. Ia menilai alat tersebut dapat membantu warga memahami perubahan kondisi air di lingkungan sekitar.

“Dengan adanya piezometer dan staff gauge, warga jadi mempunyai alat bantu untuk melihat kondisi air. Kalau air mulai naik atau justru terlalu rendah, masyarakat bisa lebih cepat mengetahui dan mengambil langkah yang diperlukan,” ungkap Abdul.

Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam sistem ini. Sebab, keberadaan alat akan memberikan manfaat maksimal jika masyarakat rutin memantau dan memahami informasi yang muncul.

SIMANTAP Jaga Pemantauan Setelah Program Berjalan

Mahasiswa PPK Ormawa BEM UNJA 2026 juga membentuk SIMANTAP atau Sistem Pemantauan Tinggi Muka Air Pudak. Tim tersebut membantu menjaga keberlanjutan pemantauan setelah pemasangan alat.

SIMANTAP mengandalkan piezometer dan staff gauge yang tersebar di RT 13 dan RT 16. Tim bersama masyarakat dapat menggunakan alat tersebut untuk memantau perubahan kondisi air secara berkala.

Selain itu, sistem tersebut mendorong warga untuk menjadikan informasi kondisi air sebagai bagian dari kesiapsiagaan lingkungan. Ketika muka air tanah turun terlalu rendah, warga dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran. Sebaliknya, ketika air kanal naik, warga dapat menyiapkan langkah menghadapi potensi banjir.

Baca Juga :  Udara Muaro Jambi Bikin Cemas, Sekolah Pilih Daring 3 Hari untuk Lindungi Siswa

Dengan pola tersebut, program tidak berhenti pada kegiatan pemasangan alat. Masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga pemantauan tetap berjalan.

Teknologi Sederhana untuk Mitigasi Bencana

Ketua PPK Ormawa BEM Universitas Jambi 2026, Ahmad Al-Fauzan, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan teknologi yang mudah digunakan masyarakat.

“Melalui pemasangan piezometer dan staff gauge, kami ingin membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai kondisi air dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Harapannya, informasi tersebut dapat menjadi dasar bagi warga untuk lebih siap menghadapi risiko kebakaran ketika muka air tanah terlalu rendah maupun risiko banjir ketika muka air di kanal mengalami kenaikan,” ujar Fauzan.

Menurut Fauzan, masyarakat harus menjadi bagian utama dalam pemanfaatan alat tersebut. Ia menilai keberadaan perangkat saja tidak cukup tanpa pemahaman dan keterlibatan warga.

“Yang paling penting bukan hanya alatnya, tetapi bagaimana alat ini bisa digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami berharap warga dapat membaca indikatornya, memahami kondisinya, dan bersama-sama melakukan langkah antisipasi,” lanjutnya.

Membaca Air Lebih Awal, Bersiap Lebih Cepat

Pemasangan empat alat di RT 13 dan RT 16 menunjukkan bahwa masyarakat dapat memulai upaya mitigasi dari teknologi sederhana. Piezometer membantu warga membaca kondisi muka air tanah, sedangkan staff gauge membantu mereka memantau ketinggian air kanal.

Lebih jauh, SIMANTAP memberi ruang bagi masyarakat untuk menjaga sistem pemantauan secara berkelanjutan. Warga tidak hanya menerima alat, tetapi juga ikut memahami cara membaca dan memanfaatkan informasi yang tersedia.

FAQ

1. Apa fungsi piezometer di Desa Pudak?

Piezometer membantu warga memantau muka air tanah, terutama pada wilayah gambut.

2. Apa fungsi staff gauge?

Staff gauge membantu warga mengetahui ketinggian air di kanal.

3. Apa arti warna hijau, kuning, dan merah?

Warna hijau menunjukkan kondisi relatif aman atau normal. Warna kuning menjadi tanda peningkatan kewaspadaan, sedangkan merah menunjukkan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih.

4. Mengapa pemantauan muka air penting di wilayah gambut?

Muka air yang terlalu rendah dapat membuat lahan gambut lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran. Sebaliknya, kenaikan air yang tinggi dapat meningkatkan risiko banjir.

5. Apa itu SIMANTAP?

SIMANTAP merupakan singkatan dari Sistem Pemantauan Tinggi Muka Air Pudak. Tim tersebut mendukung keberlanjutan pemantauan kondisi air di Desa Pudak.

6. Di mana mahasiswa memasang alat pemantauan?

Mahasiswa memasang piezometer dan staff gauge di RT 13 dan RT 16, Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.(Tim)

Berita Terkait

Bantuan Beras CPP Mulai Disalurkan di Muaro Jambi, Pesan Wabup Junaidi Jadi Sorotan
Udara Muaro Jambi Memburuk, Bupati Alihkan Siswa TK-SMP ke Kelas Online
Air Batang Siat Mendadak Menghitam, DLH Sumbar Telusuri Hulu dan Periksa IPAL 2 PKS di Dharmasraya
Bambang Bayu Suseno Bongkar Kunci Desa Makin Mandiri, Pendamping Diminta Tak Sekadar Urus Administrasi
Udara Muaro Jambi Bikin Cemas, Sekolah Pilih Daring 3 Hari untuk Lindungi Siswa
Sampah Jadi Sorotan, Pemprov Bengkulu Gaspol Siapkan TPST Regional
Karhutla Mengintai Muaro Jambi, 8 Kecamatan Masuk Zona Rawan dan ISPU Capai 200
Bunda PAUD Muaro Jambi Turun ke Kelas, Soroti Cara Sekolah Bangun Rasa Percaya Diri Anak
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 17:54 WIB

Bantuan Beras CPP Mulai Disalurkan di Muaro Jambi, Pesan Wabup Junaidi Jadi Sorotan

Selasa, 8 September 2026 - 18:04 WIB

Warga Pudak Kini Punya “Alarm” Alami, Air Naik dan Surut Bisa Dipantau dari Alat Sederhana

Senin, 7 September 2026 - 12:34 WIB

Udara Muaro Jambi Memburuk, Bupati Alihkan Siswa TK-SMP ke Kelas Online

Senin, 31 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Air Batang Siat Mendadak Menghitam, DLH Sumbar Telusuri Hulu dan Periksa IPAL 2 PKS di Dharmasraya

Senin, 31 Agustus 2026 - 19:27 WIB

Bambang Bayu Suseno Bongkar Kunci Desa Makin Mandiri, Pendamping Diminta Tak Sekadar Urus Administrasi

Berita Terbaru

Dharmasraya

64 Hotspot Muncul, Dharmasraya Naikkan Karhutla ke Siaga Darurat

Jumat, 11 Sep 2026 - 16:39 WIB