Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Perkumpulan Organisasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (POPSI) mendesak pemerintah segera membuka seluruh data yang menjadi dasar klaim PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) mengenai penyempitan selisih harga ekspor minyak sawit dengan harga acuan internasional. POPSI menilai pemerintah harus mengedepankan transparansi sebelum memperluas peran DSI sebagai agen penjual tunggal komoditas ekspor mulai September 2026.

POPSI menegaskan bahwa pemerintah harus menyusun kebijakan tata niaga sawit berdasarkan data yang dapat diuji dan diverifikasi publik. Karena itu, organisasi tersebut meminta pemerintah tidak terburu-buru memperluas kewenangan DSI sebelum publik memeriksa data pendukung secara terbuka.

Selain itu, POPSI mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap petani sawit. Organisasi itu menilai penambahan fungsi DSI dapat memperpanjang rantai perdagangan dan berpotensi menekan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani jika pemerintah tidak lebih dulu mengevaluasi kebijakan secara menyeluruh.

POPSI Pertanyakan Dasar Klaim Pemerintah

Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mengungkap dugaan praktik under invoicing dalam ekspor sawit. Namun, ia meminta pemerintah segera membuka seluruh data pendukung agar masyarakat dapat memverifikasi klaim tersebut.

Menurut Darto, pemerintah belum memiliki dasar yang cukup untuk menjadikan klaim penyempitan selisih harga ekspor sebagai pijakan kebijakan baru.

“Kami hargai bahwa pemerintah akhirnya bicara soal temuan, tidak hanya narasi. Tetapi angka ‘gap sudah berdekatan’ itu belum cukup. Jika harga telah berdekatan, maka acuannya versus indeks atau benchmark price yang mana, dihitung dengan metode apa, dan yang paling penting apakah penyempitan gap itu benar-benar berasal dari koreksi under invoicing, atau semata perubahan harga pasar dunia dalam sebulan terakhir. Itu dua hal yang berbeda,” kata Darto.

Baca Juga :  Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng

POPSI Minta DSI Buka Data

Selanjutnya, Darto menjelaskan bahwa DSI menggunakan data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Karena itu, ia meminta DSI membuka data pembanding sebelum dan sesudah penerapan kebijakan agar publik dapat menilai hasilnya secara objektif.

“DSI sudah punya datanya, itu jelas dari pernyataan Rosan sendiri. Semestinya data itu dibuka ke publik, diaudit pihak independen, supaya klaim keberhasilan ini bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar diklaim sepihak,” ujarnya.

POPSI Tolak Perluasan Peran DSI

Di sisi lain, POPSI menilai pemerintah bergerak terlalu cepat ketika menjadikan klaim tersebut sebagai alasan memperluas fungsi DSI. Organisasi itu meminta pemerintah tetap menempatkan DSI sebagai lembaga pengawas dugaan praktik under invoicing.

Darto menilai perluasan fungsi DSI menjadi agen penjual tunggal justru menambah mata rantai perdagangan sawit. Menurutnya, kondisi itu berpotensi menekan harga TBS yang diterima petani.

“Begitu DSI melangkah jadi agen penjual, itu bukan lagi soal pengawasan. Itu menambah satu lapis baru dalam rantai perdagangan sawit yang sudah panjang. Setiap lapisan baru berpotensi menekan harga di tingkat petani, apalagi kalau perannya diperluas sebelum ada evaluasi menyeluruh atas hasil satu bulan pertama,” katanya.

Baca Juga :  Saham BBCA Menguat, Dividen Rp 41,3 Triliun Langsung Masuk Rekening

POPSI Ajukan Tiga Tuntutan

Karena itu, POPSI mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah.

Pertama, pemerintah harus membuka seluruh data pembanding antara declared price dan harga acuan internasional beserta metodologi penghitungannya sebelum maupun sesudah DSI mulai beroperasi.

Kedua, pemerintah harus menjelaskan dampak penyempitan selisih harga ekspor terhadap harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.

Ketiga, pemerintah harus menunda rencana penunjukan DSI sebagai agen penjual tunggal hingga menyelesaikan evaluasi tiga bulan pertama secara transparan dengan melibatkan asosiasi petani dan seluruh pemangku kepentingan.

POPSI Dukung Perbaikan Tata Kelola

Meski mengkritik rencana tersebut, Darto menegaskan POPSI tetap mendukung upaya pemerintah untuk menutup kebocoran devisa negara. Namun, ia meminta pemerintah membangun kebijakan berdasarkan data yang terbuka, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami tidak menolak upaya menutup kebocoran devisa negara. Tapi perbaikan tata kelola ekspor harus berbasis data yang bisa diverifikasi, bukan klaim sepihak yang buru-buru dijadikan alasan memperluas kewenangan sebuah lembaga baru. Jangan sampai narasi keberhasilan ini dipakai untuk mempercepat langkah yang justru menambah beban birokrasi dan menekan harga di tingkat petani,” ujar Darto.(Tim)

Berita Terkait

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Pemkab Dharmasraya Rampungkan Lapak UMKM di Sungai Duo, Peluang Usaha Warga Terbuka
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:19 WIB

22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

Azhar Hamzah Hadiri HUT Muara Jambi, Ini Harapan Wawako Sungai Penuh

Selasa, 27 Okt 2026 - 19:00 WIB

Oplus_0

Pesisir Selatan

Dua ASN Kominfo Pessel Promosi, Ini Jabatan Baru Yendi dan Silfia

Selasa, 27 Okt 2026 - 13:17 WIB