Indonesia Stop Impor Beras, Kebijakan Baru Picu Dampak Global

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pergeseran besar terjadi di pasar beras dunia setelah Indonesia menutup keran impor komoditas tersebut. Kebijakan ini memicu reaksi dari sejumlah negara pengekspor yang selama ini menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa perubahan kebijakan itu tidak hanya berdampak pada perdagangan global, tetapi juga mengguncang kepentingan ekonomi berbagai pihak.

Amran menyampaikan hal itu saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026). Ia menyoroti bagaimana keputusan Indonesia menghentikan impor beras ikut mengubah dinamika harga dan distribusi pangan dunia.

Negara Eksportir Bereaksi Keras

Amran menjelaskan bahwa sejumlah negara pengekspor beras menunjukkan reaksi keras setelah Indonesia tidak lagi menjadi pembeli utama di pasar global. Ia menyebut posisi Indonesia selama ini sangat strategis dalam perdagangan beras internasional.

“Seluruh negara pengekspor beras ke Indonesia itu marah. Kenapa marah? Indonesia adalah pasarnya, kita penduduk terbesar nomor empat dunia,” kata Amran sebagaimana dikutip dari YoutTube Universitas Halu Oleo.

Menurutnya, Indonesia selama bertahun-tahun berperan sebagai salah satu pembeli terbesar beras dunia. Ketika permintaan tersebut berhenti, negara eksportir harus menyesuaikan ulang distribusi mereka.

Tekanan dari Pelaku Usaha Impor

Selain negara eksportir, Amran juga menyoroti reaksi dari pelaku usaha impor dalam negeri. Ia menyebut sebagian pihak yang selama ini bergantung pada aktivitas impor mengalami dampak langsung dari kebijakan baru pemerintah.

Baca Juga :  Ekonomi Desa Jadi Penopang Utama, Prabowo Soroti Kekuatan Domestik di Tengah Tekanan Rupiah

“Sudah bangun puluhan tahun gudang, bangun puluhan kapal, infrastruktur, ada sumber daya manusia, tetapi langsung gudangnya kosong karena tidak impor,” ujar Amran.

Ia menilai perubahan ini memicu penyesuaian besar di sektor logistik dan perdagangan pangan nasional. Namun, pemerintah tetap melanjutkan kebijakan tersebut untuk memperkuat kemandirian pangan.

Dampak pada Pasar Global

Amran mengungkapkan bahwa penghentian impor Indonesia ikut menekan harga beras di pasar dunia. Kondisi itu terjadi karena permintaan global berkurang signifikan.

Menurutnya, pada 2024 Indonesia sempat mengimpor sekitar 7 juta ton beras dan bahkan terjadi antrean panjang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Situasi itu berubah drastis ketika pemerintah mengambil langkah swasembada.

Perjalanan Menuju Swasembada

Dalam paparannya, Amran juga menceritakan tekanan yang ia hadapi selama proses perubahan kebijakan pangan nasional. Ia menyebut kondisi tersebut memberikan beban fisik dan mental yang cukup berat.

“Tahu Nak, karena saya tertekan seperti tadi, bukan Anda saja saya tekan, saya tertekan vertigo, dua kali saya jatuh,” kata Amran.

“Untung tidak ada kamera. Di mal jatuh, kemudian pada saat di rumah aku langsung jatuh, 7 jam dirawat baru bisa bangun. Kenapa? Stres,” tambahnya.

Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan langkah percepatan produksi pangan dalam negeri hingga akhirnya Indonesia mengklaim berhasil mencapai swasembada beras pada 2025.

Kebijakan Tanpa Impor dan Capaian Produksi

Amran menegaskan bahwa Indonesia tidak membuka keran impor beras konsumsi sepanjang 2025. Pemerintah kemudian mengumumkan capaian swasembada tersebut secara resmi pada awal 2026 saat kegiatan panen raya di Karawang.

Baca Juga :  IHSG Tembus 7.057, Bursa Menguat 1,22%

Ia menilai perubahan ini menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mengurangi ketergantungan pada pasar luar negeri sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pergeseran Besar dalam Peta Pangan Dunia

Menurut Amran, keberhasilan Indonesia mengurangi impor tidak hanya berdampak pada domestik, tetapi juga mengubah keseimbangan perdagangan global. Negara-negara eksportir kini harus mencari pasar baru untuk menyerap produksi mereka.

Ia juga menyinggung perubahan struktur keuntungan dalam bisnis impor yang selama ini berjalan bertahun-tahun di Indonesia.

Langkah Indonesia menghentikan impor beras menandai babak baru dalam kebijakan pangan nasional. Di satu sisi, kebijakan ini memperkuat kemandirian. Namun di sisi lain, ia juga mengubah peta perdagangan global yang selama ini bergantung pada permintaan dari pasar Indonesia.

FAQ

1. Apa kebijakan utama yang disampaikan pemerintah?

Pemerintah menghentikan impor beras konsumsi dan mendorong swasembada pangan nasional.

2. Mengapa negara eksportir bereaksi?

Karena Indonesia selama ini menjadi salah satu pasar terbesar beras dunia.

3. Berapa impor beras Indonesia pada 2024?

Sekitar 7 juta ton.

4. Apa dampak di pasar global?

Harga beras dunia disebut mengalami tekanan akibat turunnya permintaan.

5. Apakah Indonesia masih impor beras?

Menurut penjelasan Amran, Indonesia tidak membuka impor beras konsumsi sepanjang 2025.(Tim)

Berita Terkait

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan
Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama
Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional
SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
CPNS 2027 Buka Peluang Baru! PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS, Ini Proyeksinya
DPR Ketuk Palu! Nuzran Joher Resmi Pimpin Ombudsman RI, Gantikan Hery Susanto
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 16:37 WIB

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan

Jumat, 11 September 2026 - 20:59 WIB

Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama

Selasa, 8 September 2026 - 08:00 WIB

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Berita Terbaru