PMI Manufaktur RI Diperkirakan Masih Tertekan, Ekonom Soroti Dua Tekanan Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Sektor manufaktur Indonesia kembali menghadapi sinyal perlambatan pada pertengahan 2026. Sejumlah ekonom menilai tekanan biaya produksi yang meningkat dan pelemahan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor, masih akan menahan laju ekspansi industri dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berpotensi bertahan di zona kontraksi setelah sebelumnya sempat menunjukkan pemulihan singkat pada awal tahun. Pelaku industri kini menghadapi situasi yang lebih kompleks karena tekanan datang dari dua sisi sekaligus: biaya dan permintaan.

Selain itu, ketidakpastian global ikut memperburuk sentimen bisnis, terutama setelah gangguan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok dan harga bahan baku.

Tren Perlambatan Mulai Terlihat Sejak Awal Tahun

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pelemahan sektor manufaktur sebenarnya sudah muncul sejak beberapa bulan terakhir. Ia mencatat bahwa setelah sempat mencapai titik kuat pada Februari 2026, indikator PMI mulai kehilangan momentum secara bertahap.

“Setelah memasuki fase perang di Timur Tengah, [PMI manufaktur] itu kemudian pelan-pelan mengalami penurunan,” kata Faisal.

Menurut dia, pada Maret 2026 industri masih mencatat ekspansi, namun kekuatannya mulai melemah. Kondisi itu kemudian berubah pada April ketika PMI kembali turun ke bawah ambang 50, yang menandakan kontraksi aktivitas industri.

Faisal memperkirakan tekanan tersebut masih akan berlanjut hingga Mei 2026 karena belum ada faktor pemulihan yang cukup kuat untuk mendorong permintaan baru.

Baca Juga :  Rupiah Tertekan ke Rp17.300 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Dominan

Biaya Produksi Naik, Permintaan Melemah

Faisal menjelaskan bahwa tekanan utama industri manufaktur berasal dari kenaikan biaya produksi. Perusahaan menghadapi lonjakan biaya logistik, kenaikan harga bahan baku, serta tekanan inflasi pada komponen input produksi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperbesar beban industri yang bergantung pada impor bahan baku.

Namun, tekanan tidak berhenti di sisi biaya. Permintaan pasar juga menunjukkan tren penurunan. Baik pasar domestik maupun ekspor sama-sama melemah, sehingga volume pesanan industri ikut menurun.

“Tekanan bukan hanya dari biaya produksi tapi sekarang juga dari market. Dan tekanan terjadi, order itu mengalami penurunan bukan hanya dari luar negeri, tapi juga dari dalam negeri,” ujar Faisal.

Kondisi ini membuat pelaku industri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menahan kenaikan biaya operasional. Di sisi lain, mereka tidak dapat menaikkan produksi karena permintaan tidak cukup kuat.

Data PMI Tunjukkan Sinyal Kontraksi Berulang

Data S&P Global memperkuat gambaran perlambatan tersebut. PMI manufaktur Indonesia tercatat turun dari 50,1 pada Maret 2026 menjadi 49,1 pada April 2026. Angka ini menandai kembalinya sektor manufaktur ke zona kontraksi setelah bertahan selama sembilan bulan di area ekspansi.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menilai tekanan inflasi menjadi faktor utama yang memicu penurunan aktivitas industri.

“Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penurunan produksi terjadi akibat kenaikan harga bahan baku, gangguan rantai pasok, serta melemahnya daya beli masyarakat. Dalam beberapa kasus, perusahaan bahkan menurunkan output karena tidak mampu menyesuaikan biaya dengan permintaan yang ada.

Baca Juga :  PTBA Bagi Dividen Rp1,32 Triliun, Strategi Simpan Laba Jadi Sorotan Investor

Dampak ke Industri dan Prospek ke Depan

Jika tren ini berlanjut, sektor manufaktur berpotensi menghadapi fase perlambatan yang lebih panjang. Industri padat karya seperti tekstil, makanan-minuman, dan komponen otomotif menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penurunan permintaan.

Selain itu, pelaku usaha juga berisiko menahan ekspansi investasi karena ketidakpastian permintaan jangka menengah. Kondisi ini dapat berdampak pada penyerapan tenaga kerja di sektor industri.

Meski demikian, sebagian analis menilai peluang pemulihan masih terbuka jika stabilitas harga bahan baku membaik dan permintaan domestik kembali meningkat, terutama menjelang semester kedua 2026.

FAQ

1. Apa itu PMI manufaktur?

PMI manufaktur merupakan indikator yang mengukur aktivitas industri berdasarkan pesanan baru, produksi, tenaga kerja, dan persediaan.

2. Apa arti PMI di bawah 50?

Angka di bawah 50 menunjukkan sektor manufaktur mengalami kontraksi atau penurunan aktivitas.

3. Mengapa PMI Indonesia kembali turun pada 2026?

Penurunan terjadi akibat kenaikan biaya produksi, pelemahan rupiah, serta turunnya permintaan domestik dan ekspor.

4. Apakah sektor manufaktur masih bisa pulih?

Pemulihan masih mungkin terjadi jika tekanan inflasi mereda dan permintaan pasar kembali menguat.

5. Sektor mana yang paling terdampak?

Industri padat karya seperti tekstil, makanan-minuman, dan komponen otomotif cenderung paling terdampak.(Tim)

Berita Terkait

Ekspor Tekstil Indonesia Bersiap Melesat, LPEI Bongkar Strategi Tembus Pertumbuhan 4 Persen hingga 2027
Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah
Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya
Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028
Tarif AS untuk Indonesia Belum Pasti, Apindo Ungkap Dampak yang Lebih Berbahaya bagi Industri dan Investasi
Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku
PHE Tancap Gas Buru Cadangan Migas Baru, Joint Study Melonjak Jadi 12 Blok dan Ekspansi Tembus Malaysia
Saat Dunia Menutup Keran Ekspor, Zulhas Pastikan Stok Pangan RI Surplus dan Siap Hadapi Krisis Global
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:59 WIB

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah

Senin, 27 Juli 2026 - 14:34 WIB

Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:00 WIB

Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:00 WIB

Tarif AS untuk Indonesia Belum Pasti, Apindo Ungkap Dampak yang Lebih Berbahaya bagi Industri dan Investasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:00 WIB

Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku

Berita Terbaru