SUNGAI PENUH – Dump truck tanah kampus STKIPM Sungai Penuh
Aktivitas angkutan tanah timbunan menuju lokasi pembangunan kampus STKIPM Sungai Penuh mulai mengusik kenyamanan warga Kumun Hilir, Kota Sungai Penuh. Warga menyoroti intensitas dump truck yang melintas di jalan permukiman hingga memicu kerusakan badan jalan dan menimbulkan debu.
Warga menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena jalur yang mereka gunakan sehari-hari kini harus menanggung lalu lintas kendaraan pengangkut material dalam jumlah cukup tinggi. Mereka juga meminta pengelola kegiatan memperhatikan keselamatan pengguna jalan selama proses pengangkutan berlangsung.
Persoalan tersebut bukan berkaitan dengan pembangunan kampus. Warga justru mempersoalkan aktivitas pengambilan tanah timbunan serta lalu lintas kendaraan berat yang melintasi kawasan permukiman dan membawa dampak terhadap kondisi jalan serta lingkungan sekitar.
Dump Truck Angkut Tanah dari Kawasan Dapadan
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, kendaraan pengangkut mengambil material tanah timbunan dari kawasan perbukitan sekitar Dapadan. Selanjutnya, dump truck membawa material tersebut menuju lokasi pembangunan kampus STKIPM Sungai Penuh yang berada di depan rumah dinas Wali Kota Sungai Penuh.
Intensitas kendaraan yang melintas juga menjadi perhatian warga. Mereka menyebut dump truck datang silih berganti membawa tanah dari kawasan Kumun Hilir menuju arah Ulu Air.
“Jalan ini bukan diperuntukkan untuk angkutan material berat” ujar warga kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Menurut warga, kondisi jalan tidak hanya menghadapi tekanan akibat kendaraan berat. Aktivitas tersebut juga membuat sejumlah bagian bahu dan badan jalan sepanjang kurang lebih 500 meter mengalami kerusakan.
Warga Keluhkan Debu di Sepanjang Jalan
Selain kerusakan jalan, debu menjadi persoalan lain yang langsung warga rasakan. Kendaraan pengangkut tanah keluar masuk lokasi kegiatan dan membawa material melewati jalan permukiman.
Saat kendaraan melintas, debu dapat mengganggu pengguna jalan dan warga yang tinggal di sekitar jalur tersebut. Karena itu, warga meminta pengelola kegiatan meningkatkan pengendalian debu selama aktivitas pengangkutan berlangsung.
Warga berharap pihak yang bertanggung jawab melakukan penyiraman jalan secara rutin. Langkah tersebut penting untuk mengurangi debu, terutama ketika kendaraan dump truck terus melintas sepanjang aktivitas pengangkutan tanah.
Warga Pasang Pot dan Pembatas
Kondisi tersebut juga mendorong warga mengambil langkah untuk menjaga bahu jalan. Sebagai bentuk protes agar kendaraan tidak menggunakan bahu jalan secara sembarangan, warga memasang pot dan pembatas di sejumlah titik.
Langkah itu sekaligus menunjukkan kekhawatiran warga terhadap kondisi jalan permukiman yang mereka gunakan setiap hari. Mereka berharap aktivitas kendaraan berat tetap mengikuti kondisi dan kapasitas jalan yang tersedia.
Warga juga meminta agar pengelola kegiatan memperhatikan dampak aktivitas pengangkutan terhadap lingkungan sekitar. Menurut mereka, pengaturan lalu lintas kendaraan, penyiraman jalan, serta perlindungan bahu jalan perlu berjalan beriringan selama proses pengangkutan material.
Warga Tegaskan Tidak Menolak Pembangunan Kampus
Warga menegaskan bahwa mereka tidak mempersoalkan pembangunan kampus STKIPM Sungai Penuh. Mereka memahami pembangunan membutuhkan material dan kendaraan pengangkut.
Namun, warga mempertanyakan cara pengambilan material serta penggunaan jalan permukiman sebagai jalur angkutan tanah. Mereka berharap pihak terkait mencari solusi agar kebutuhan pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kenyamanan dan kondisi lingkungan masyarakat.
Belum Ada Keterangan dari Pihak Kampus
Sampai berita ini diterbitkan, pihak kampus STKIPM Sungai Penuh belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga mengenai aktivitas dump truck pengangkut material tanah.
FAQ
Apakah warga menolak pembangunan kampus STKIPM Sungai Penuh?
Tidak. Warga menegaskan mereka tidak mempersoalkan pembangunan kampus. Mereka menyoroti aktivitas pengambilan material tanah dan lalu lintas dump truck yang berdampak terhadap jalan serta lingkungan.
Apa keluhan utama warga Kumun Hilir?
Warga mengeluhkan kerusakan badan dan bahu jalan sepanjang kurang lebih 500 meter serta debu yang muncul akibat aktivitas kendaraan pengangkut tanah.
Dari mana material tanah timbunan berasal?
Menurut informasi warga, material berasal dari kawasan perbukitan sekitar Dapadan dan kemudian dump truck membawanya menuju lokasi pembangunan kampus STKIPM Sungai Penuh.
Apa yang warga minta kepada pihak terkait?
Warga meminta pengendalian debu melalui penyiraman jalan secara rutin, pengaturan kendaraan berat, serta perhatian terhadap kondisi bahu dan badan jalan yang mereka gunakan.
Apakah pihak kampus sudah memberikan tanggapan?
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kampus STKIPM Sungai Penuh terkait keluhan warga tersebut.(Tim)









